The Rolling Stone Interview

Iwan Fals

THE ROLLING STONE INTERVIEW

Oleh Adib Hidayat

 

Manusia ½ Dewa dari Leuwinangung ini akhirnya bersedia bersaksi tentang kondisi negara, pencekalan, pendidikan di Indonesia, komunis, Munir, SBY serta album mutakhir 50:50 yang menjadi album keseimbangan tentang cinta dan sosial yang menjadi tanggung jawabnya.

 

 

Saya satu diantara ribuan orang yang ikut menyemut di Lapangan Pancasila, Salatiga malam itu. Salatiga adalah sebuah kota di Jawa Tengah yang terletak diantara Semarang dan Solo, dikenal salah satunya karena ada Universitas Kristen Satya Wacana yang begitu dinamis saat itu. Dinamis berkat dosen berkualitas seperti Arief Budiman dan Ariel Heryanto yang kala itu masih mengajar di kampus itu. Rumah saya di daerah Suruh, sekitar 10 kilometer dari Salatiga. Saat itu bulan Maret tahun 1990. Lagu “Bento” dari Iwan Fals bersama kelompok Swami sedang menjadi hits, termasuk di kota kecil, dingin dan teduh seperti Salatiga. Dan malam itu Swami lengkap dengan Iwan Fals datang memberikan konser yang lebih mendekati semangat perlawanan daripada sebuah hiburan musik semata. Tahun 1990 Soeharto masih berkuasa penuh. Iwan Fals dan Swami memberikan “perlawanan” lewat lagu. Rombongan Swami yang datang dan siap “tempur” adalah Iwan Fals, Sawung Jabo, Naniel, Nanoe, Inisisri, W.S. Rendra, Setiawan Djody dan banyak lagi.

 

Tanah berpijak tempat saya berdiri serasa bergetar. Sesekali tubuh saya terdorong ke samping kanan dan kiri. Bahkan beberapa kali kaki saya terinjak. Belum lagi orang-orang di depan saya yang kerap menutupi pandangan mata saya kearah panggung besar yang berdiri kokoh di depan saya. Tapi saya tidak peduli. Saya sedang mengikuti “dakwah” politik dan musik. Saya sempat mengumpat, pasalnya kaca mata minus 2 yang biasa saya pakai tertinggal di rumah. Membuat pandangan saya kurang jelas melihat sosok Iwan Fals dan yang lain. Kabur. Sialan benar.

 

Sementara saya sibuk memelototkan mata melihat ke panggung ribuan orang seperti berada dibawah pengaruh hipnotis. Bernyanyi, berteriak, menjerit, dan menangis tanpa peduli dengan sekelilingnya. Semua teriak lantang menyanyi. Semua hapal diluar kepala. Apalagi saat “Bongkar” di nyanyikan oleh Sawung Jabo dan Iwan Fals yang kompak. Mereka berdua bertelanjang dada, “O..o…ya o…ya o ya Bongkar!” kata Iwan dan Jabo yang direspon dengan gempita oleh umat yang datang malam itu. Nuansa kebebasan sungguh terasa. Bebas berteriak dan bernyanyi. Malam itu. Saat itu OI belum ada. Yang lebih terkenal adalah Fals Mania. Saya seorang diri terjepit diantara ribuan Fals Mania malam itu. Iwan Fals bagi saya adalah perwujudan dari sosok idola, dewa, bahkan raja. Dia juga seorang nabi bagi ummatnya. Dan saya menjadi salah satu ummatnya pada malam itu menyaskikan dirinya berkhutbah lewat lagu.

 

___________________

 

 

Itu pertama kali saya mengalami interaksi emosianal secara langsung dengan Virgiawan Listanto, akrab disapa Tanto di keluarganya. Tapi lebih diakrabi lagi oleh jutaan orang di Indonesia  dari ujung Aceh sampai Irian dengan nama Iwan Fals. Dan pada suatu siang di akhir Maret 2007 setelah 17 tahun “pertemuan” itu saya kembali bertatap muka dengan Iwan Fals. Kali ini di padepokan Iwan Fals di Leuwinanggung. Saya sedang tidak hendak menyaksikan Iwan Fals bersenandung. Saya hendak melakukan interview dengannya. Leuwinanggung adalah sebuah komplek seluas 6000 meter lebih yang di dominasi warna abu-abu. Warna kesukaan Iwan Fals mungkin.

 

Sosok dan kharismanya awalnya membuat saya sungkan padanya. Tapi dewa yang satu ini ternyata sangat ramah. Amat ramah malah. “Sekarang kita makan dulu ya,” kata Iwan sambil tanpa sungkan memasukkan sepotong paha ayam dari McDonalds yang dibeli oleh Widi, staff dari Musica Studio’s saat saya baru tiba. “Wah kita makan produk Amerika nih,” cetusnya sambil terkekeh. Terasa ada sesuatu yang hendak disampikan Iwan Fals dalam misteri tawanya itu. Iwan Fals makan McDonals. Ini menarik.

 

Iwan Fals tampak sehat. Badannya mulai menggemuk. Rambut mulai memutih. Di bagian depan rambutnya mulai jarang. Efek usia. Tak ada yang bisa melawan. Celana jeans yang dia pakai tampak pas membalutnya. Juga dengan T-shirt warna abu-abu polos yang melekat di badannya dan dimasukkan ke celana dengan ikat pinggang hitam yang mengikat. Sebuah kacamata minus dipakainya siang itu. Polos adalah warna kesukaan Iwan Fals. Dirinya tidak mau memakai atribut atau logo-logo tertentu yang membuatnya seolah menjadi “milik” atau “wakil” dari produk yang menjadikannya sebagai sebuah simbol produk.

 

“Iwan bukannya tidak mau. Banyak yang menawarkan produk dan meminta Iwan menjadi bintang iklannya. Tapi dia belum mau. Belum tahu kapan waktu yang tepat. Kami sering diskusi soal ini. Kadang saya yang lupa, dia yang mengingatkan visi dan misi tidak mau terikat dengan produk tertentu. Tapi kadang dia sendiri juga lupa,” kata mbak Yos, istri yang menemani hidup Iwan Fals sejak Maret 1981. Mereka kerap saling mengingatkan. Pula saat Iwan terus larut dalam kesedihan sepeninggal almarhum Galang Rambu Anarki pada April 1997 lalu. “Saya bilang pada Iwan, saya juga kehilangan. Kami sama-sama kehilangan. Akhirnya kami bisa bangkit dan merelakan kepergian Galang.” Lagu “Hadapi Saja” dari album Suara Hati menjadi penanda “ikrar” mereka berdua untuk merelakan kepergian Galang untuk selamanya.

 

Hampir 26 tahun Iwan Fals ditemani Rosanna atau akrab dengan panggilan Yos. Sejak tahun 1999 pula secara resmi Yos menjadi manajer Iwan Fals. “Enak, manajernya bisa diajak tidur bareng,” celetuk Iwan Fals yang disambut senyum simpul Yos yang sedang asyik mengawasi Rayya Rambu Robbani. Putra bungsu mereka di pendopo tempat berlangsung interview. Annisa Cikal Rambu Basae, kakak dari Rayya saat saya datang katanya sedang kuliah. Kuliah di London School serta mengambil kuliah Tata Boga di sebuah universitas di Jakarta.

 

Yos mengakui dia mau menjadi manajer Iwan Fals karena dia sudah faham betul bagaimana sosok Iwan Fals itu. “Paling tidak kami punya mimpi dan cita-cita yang sama sejak masa pacaran, kawin, punya anak, kehilangan anak dan terus sampai sekarang. Landasan saya dan dia sama. Makanya saya berani memegang dia. Saya jadi bisa membagi porsi Iwan Fals antara menjadi suami, ayah, dan kapan dia harus menyanyi” kata Yos tentang alasaan akhirnya Iwan Fals Management dipegang olehnya. Alasan cemburu juga menjadi alasan pertama Yos harus menjadi manajer Iwan Fals. “Tapi itu alasan dulu, sekarang sih sudah saling percaya ya.”

 

Pongky dari Jikustik di album terbaru Iwan Fals, 50:50 ikut memberikan lagu berjudul “Tak Pernah Terbayangkan” yang di aransemen oleh Bagoes AA.  Lagu yang ditulis Pongky ini terinspirasi dari kisah hidup Iwan Fals yang selalu ditemani sang istri, dalam kondisi apapun. “Tulis besar-besar tentang hal ini, saya mendedikasikan lagu tersebut untuk mereka berdua. Itu lagu untuk mas Iwan yang beruntung mendapat pendamping hidup seperti mbak Yos,” kata Pongky. Album 50:50 tampil dengan warna pink dan biru tua. Warna yang sangat pop. “Itu warna kesukaan Rayya, hingga Iwan mau menjadikan nuansa kover albumnya dua warna itu,” jelas Yos tentang nuansa warna di kover album terbaru yang dibuat oleh Boedi Soesatio. Orang dibalik pembuat kover-kover Iwan Fals di periode awal karirnya seperti album Sore Tugu Pancoran, Ethiopia, Sumbang, dan 1910.

 

Iwan Fals teman diskusi yang menyenangkan. Siang itu kami lebih melakukan diskusi daripada interview. Selain hobi melukis dan bermusik Iwan sangat menyukai diskusi. Adalah dikusi Reboan yang tiap malam Rabu diadakan di Leuwinanggung dengan berbagai pihak –dari mentri, dosen, pakar, artis, orang biasa, seniman- membuat Iwan suka melakukan diskusi panjang lebar tantang banyak hal. Diskusi dengan siapa saja membuat Iwan mendapat banyak masukan ide untuk lagu-lagunya. Beberapa kali fotografer Drigo L. Tobing yang kebetulan satu almamater dengan Iwan Fals dan Yos di IKJ ikut bertanya. Iwan Fals ternyata pribadi yang penuh rasa optimis. Rasa keheningan dan kehilangan telah lenyap dari pikirannya.

 

Rasa optimisme Iwan Fals tidak berubah. Sejak dia merilis album Sarjana Muda tahun 1981 lampau lewat lagu. “Bangunlah Putra Putri Pertiwi.” Iwan sudah menyuarakan rasa optimisme. “Terbanglah Garudaku. Kibaskan kutu-kutu disayapmu. Berkibarlah benderaku. Singkirkanlah Benalu yang melekat di tanganmu. Jangan ragu dan jangan malu. Tunjukkan pada dunia bahwa sebenarnya kita mampu.” Iwan Fals banyak memberikan wacana tentang kondisi bangsa ini jauh ke depan. Salah satunya lewat lagu “Negara” di album 50:50. Berikut adalah petikan hasil diskusi dengan penguasa Leuwinanggung tentang banyak hal.

 

 

I.                   ANTARA JEDDAH, BANDUNG, DAN JAKARTA

 

Masa kecil seorang Iwan fals seperti apa ya?

Saya ke Bandung tahun 1975 atau tepatnya tahun berapa saya lupa. Ada kakak saya disana dua orang. Saya kost waktu itu. Saat itu sekolah di SMP 5. Sempat ke Jakarta dulu, sekolah. Saya ngaco sekolahnya. Terus ke Bandung lagi, kemudian rekaman kelompok Amburadul. Tapi kalau nggak salah saya  ke Jeddah dulu sebelum ke Bandung. Ada keluarga sepupu ibu yang mengajar di kedutaan Arab. Kebetulan beliau belum punya anak. Saya diajak kesana. Nggak betah sekolah cuma berisi 3 orang di KBRI. Terus pulang ke Bandung. Apa ke Jogja ya? Sempat ke Jogja. Sendiri saat itu. Masih kecil. Kost saya waktu itu. Terus Ke Bandung lagi yang menjadi inspirasi besar saya.

 

Tapi saat di Jeddah itu saya juga diajari main gitar dengan seorang Pramugari yang bisa menyanyikan dan memainkan lagu-lagu Bob Dylan. Tumbuh kreatif saya di Bandung, saat itu semua orang sedang suka sama the Rolling Stones. Saya nggak bisa. Saya bikin lagu saja sendiri. Gabung dengan lagu-lagu humor. Ngaco saya waktu itu. Mainan lagu-lagu Bob Dylan digabung lagu The Rolling Stones atau lagu Sunda. Pokoknya orang tertawa. Tepuk tangan. Senang. Pulang. Hahaha. Saya sering main di acara kawinan.

 

Dasar awal karir musik Anda itu country ya?

Itu orang yang bilang. Karena saya dulu pernah menang di festival musik country. Saya aslinya suka musik bluegrass country. Saya suka ketukannya. Ritmis dan penuh semangat gitu. Lagu buruh-buruh kereta api. Semangatnya yang saya suka. Kan capek tuh sehabis nambang, terus mabuk, main musik, Itu yang saya suka dari bluegrass country. Saat itu saya memang suka musik seperti itu.

 

Kalau nama Iwan Fals sendiri asalnya dari mana sebenarnya?

Ada dulu teman yang buka bengkel motor. Engkus namanya. Dia jadi manajer-manajeran saya gitu. Kalau ada yang datang ke Bengkelnya dia suka nguping, dimana ada yang kawinan. ‘Oh ini di Pagarsih ada yang kawinan.’ Terus dia ngomong ke saya. Kita main yuk. Saya suka bawain lagu-lagu kocak dan becanda yang dirusak-rusakin. Dia bilang, “Ahh, iyeu budak fales oge yieh…” (Red: anak ini fales juga nih ternyata) Dari sejak itu dipakai nama Iwan Fals terus. Terus dia yang promosin ‘Iwan Fals dari Dago’. Tapi saya sempat juga tinggal di jalan Ternate, Bengawan, juga Dago Pojok. Saya waktu itu kost, sering pindah.

 

Engkus masih hidup?

Masih, dia kemarin malah sempat mampir kesini. Dia sopir truk. Dia sudah tua juga. Tapi saya mau nambahin soal Fals tadi. Dia memang yang mencetuskan nama itu. Tapi saya setuju karena nama itu melindungi saya. Kan saya ingin tampil bagus nggak ingin jelek. Kalau mau nama Iwan Bagus sementara saya jelek ya gimana? Makanya saya pakai Fals kalau ternyata saya fales ya saya tenang, karena memang namanya Fals. Jadi kalau salah atau fales-fales dikit ya maklum. Berangkatnya dari situ hahaha.

 

Karena saya nggak yakin waktu itu dengan diri saya sendiri. Di gitar saya waktu itu  Yamaha ditempelin pake lakban. Waktu itu masih FALES. Belum FALS. Jadi pernah juga pakai nama PALES juga hahaha. Saya males ngikutin gimana terus sampai Musica ngusulin nama FALS. Sampai saat ini saya masih ada keinginan untuk memakai nama FALES juga. Atau air terjun jadi, FALLS. Atau ada keinginan PALSU. Wah sudah lah saya nggak tahu. Yang penting bisa bikin lagu…

 

Sampai album Sarjana Muda direkam di Musica itu mereka yang nawarin atau Anda yang membawa lagu ke Musica?

Waktu itu saya ikut festival music country di Trisakti. Saat itu ada orang Musica melihat. Namanya siapa yah? Kalau nggak salah Kiki. Dia yang menghubungi saya. Dia yang ngajak saya rekaman. Itu setelah album humor dan album Perjalanan. Album Sarjana Muda dan Opini itu satu kontrak. Musiknya yang membantu Willy Soemantri. Saya tahu Willy Soemantri sebelumnya dia yang bikin musiknya Franky Sahilatua. Dia yang ngebentuk saya ke country. Dulu saya ke bluegrass country.

 

Kalau terus bisa bermain musik  dengan Ian Antono?

Iya saya kenal dia pas Galang lahir. Ada yang bilang ada pemain gitar top dari God Bless nih. Saya pingin dibikinin lagu sama dia. Saat itu God Bless sedang vakum, dia saat itu sempat kecewa bermusik. Terus saya datang ke rumahnya. Kebetulan saya suka God Bless juga. Dia itu kan selektif kalau bikin lagu untuk penyanyi. Kebetulan dia mau bikin lagu, Galang. Terus Sumbang. Cuma waktu itu lagu Galang nggak dimasukan. Masih masuk di album bersama Willy Soemantri. Baru kemudian di album Sumbang dan Ehiopia lanjut ke 1910 sama Ian Antono terus.

 

Dekat dengan Ian Antono karena Anda ingin  fasih memainkan musik rock?

Saya lupa. Tapi mungkin saya memang waktu itu pingin mainkan rock. Kan penyanyi rock itu gagah ya? Kalau rock bisa tampil gagah di panggung sambil telanjang dada. Saya masih ada posternya. Ada harapan saya bisa lebih ekspresif dengan rock.

 

Soal hobi olah raga karate mulai kapan sebenarnya Anda tekuni?

Saya main yudo sebenarnya. Tapi saya main musik dulu. Lama saya nggak latihan. Terus sempat keluarga terancam saya mulai belajar karate. “Eh Yos, pas di Buncit itu tahun berapa yah? (Tanya Iwan. Dijawab Yos ‘Tahun 1983’). Saat itu saya mulai kembali belajar karate.

 

Terancam oleh pemerintah karena lirik lagu yang Anda nyanyikan atau apa?

Terancam lingkungan. Sekitar rumah saya. Waktu itu kaca rumah saya dipecahin. Saya punya bayi kan waktu itu.  Jadi buat jaga-jaga. Eh keterusan. Saat itu sempat ikut kejuaraan se DKI kelas bebas dapat juara III. Cuma sekarang saya sedang menyukai silat. Karena kalau silat kan bisa seperti tenaga dalam, rohani, pernafasan. Karate ada tapi susah yah.

 

 

II.          KELUARGA

Hal paling lucu dari Rayya terakhir ini apa?

Oh, ini ada saat saya rekaman. Saya titipkan dia sama crew saya. Crew saya ngomongin saya rupanya. Iwan gini-gini. Terus dia nyeletuk, “Ini nih anak Iwan Fals.” Dia bangga sama bapaknya…Membela saya dia hahaha.

 

Rayya belum dibuatkan lagu?

Sudah. Sudah saya rekam juga. Cuma saya nunggu diijinkan dirilis tidak sama Rayya? Judul lagunya “Rayya Rambu Rabbani”. Saya nungu dia dulu mau nggak lagu tentang dia saya keluarkan. Sekarang belum bisa diajak ngobrol soal lagu dia hehehe.

 

Makin nyaman dengan manajemen dipegang istri sendiri?

Iya karena dia bisa menjadi teman tidur. Kadang sampai di tempat tidur juga ngobrol soal musik. Kadang kita debat ramai sampai tempat tidur. Saya mau konser dia yang melarang. Hampir 24 jam isinya teror terus. Saya sering mengalah karena banyak tim yang terlibat kan? Tapi kalau crew sudah mulai bilang, “mas ayo main saya sudah nggak punya duit nih”, nah itu baru saya semangat. Kalau dihitung setiap pertunjukan akan memberi nafkah banyak orang. Karena yang terlibat di tur dan konser kan banyak. Dia cukup sukses menata saya.

 

Dulu kenal dengan  istri di IKJ?

Waktu itu saya sempat ngambil kuliah jurusan Seni Rupa juga di IKJ (namanya saat itu masih LPKJ).  Saya kuliah di LPKJ dalam rangka mengambil dia dari sarang penyamun. Saya kuliah dua kali saat itu. Pas sudah berhasil mendapatkan dia ya sudah, saya keluar nggak sampai lulus. Misi sudah tercapai hahaha.

 

III.             KARIR DAN TEKNOLOGI

Melihat trend di industri musik sekarang ini bisnis digital sedang marak. Anda melihat hal ini sebagai pertanda apa?

Yah, itu kenyataan masa depan. Dua atau tiga tahun lagi akan menjadi sesuatu. Saya harus ikutin. Teknologi itu akan jalan terus. Orang hidup di jalan itu berapa jam coba? Mereka tidak akan bisa membawa semua alat. Dia tidak mungkin bawa telepon, bawa audio tape. Dia harus bawa alat kecil yang bisa buat dengar lagu, ngetik, buat telepon. Itu kenyataan. Nah im:port itu salah satu kita bisa dengar lagu disitu. Kalau Musica kan masih jual CD dan kaset gitu. Tapi pasti nanti akan mengarah kesana.

 

Mengikuti terus update teknologi?

Sempat saya setahun lalu. Keranjingan. Tapi lama kelamaan bosan juga. Sadar bahwa  itu bukan bidang saya. Waktu saya kemakan komputer-komputer gitu. Waktu saya terbuang. Saya mending kembali ke asal. Kembali ke kayu.

 

Saya sempat melihat ada  MySpace Iwan Fals ada di website. Siapa yang membuatnya?

Apa tuh MySpace?

 

Seperti website pribadi tapi lebih interaktif. Itu manajemen yang bikin atau fans yang bikin?

“Yos, website kapan mau bikin (Iwan bertanya pada istrinya). Rencananya mau barengan sama album rilis. Kalau MySpace itu mungkin dari fans. Kalau website pribadi nanti kita akan resmikan bersama album. Paling tidak itu mendekati kebenaran lah yang kita buat…

 

Sempat ada Iwan fals.com, itu dari fans?

Iya, itu kalau nggak salah anak ITB. Anak Bandung. Saya dulu senang-senang saja ada yang bikin. Ternyata itu bisnis gede juga ya?

 

Anda termasuk yang rajin mendokumentasikan karya?

Saya merekam suka. Tapi ngumpulin itu yang saya suka jorok. Sekarang dibantu oleh tim. Ada sekitar 20 orang. Ada yang dokumentasi, foto, gambar, lukisan, suara, rekaman. Catatan-catatan. Sekarang mulai terkumpul. Dulu saya buang-buang saja. Sekarang mulai dikumpulkan baju, gitar, ya album-album yang bercecer.

 

Ada rencana membuat boxset berisi album-album saat di Musica atau malah semua album Anda secara retrospektif?

Kemarin Musica mau bikin begitu dari tahun 1980 dijadikan satu terus dijual. Saya sama Chrisye mau dibuat seperti itu. Nggak tahu apakah akan gabung dengan album saya saat selain di Musica seperti di Airo, Harpa, Prosound yang album Hijau itu.

 

Oya, album Hijau. Itu salah satu album favorit saya. Itu benar direkam semua secara live?

Iya. Tapi ada dua yang agak goyang. Ari Ayunir. Pas semua live dia bilang, ‘aku dubbing deh’. Sama pemain kendang. Tapi secara keseluruhan ya live. Kalau album Belum ada Judul itu live. Saya dan gitar saja. Kalau gak salah semua lagu di album itu direkam selama 6 jam. Kalau Manusia ½ Dewa walau cuma pake gitar saja tapi butuh sekitar 2 bulan.

 

IV.              DUNIA KRITIK DAN PANGGUNG PERTUNJUKAN

Waktu itu sempat ada rasa curiga saat Setiwan Djody mengajak membuat proyek Swami dan Kantata Takwa dan mengajak Anda? Karena dia kan dekat dengan lingkungan Cendana?

Wah saya nggak tahu. Saya nggak punya pikiran sejauh itu. Saya juga nggak bisa apa-apa juga ya waktu itu. Karena dia masih sepupu saya.

 

Anda masih saudara dengan Setiawan Djody?

Iya, dari bapak. Kalau pekerjaan saya selama ini dengan Mas Djody mulai kenal dengan dia gara-gara album Mata Dewa. Kan Airo dari Sofyan Ali yang bikin. Saya nggak tahu kalau dia itu masih sepupu saya. Saya tahunya Setiawan Djody saja. Nah pas masuk di Kantata Takwa baru ketahuan. Saya ada sepupu laki-laki suka ke rumah mas Djody. Lho ternyata kita itu masih ada hubungan saudara. Bapak saya sama bapak mas Djody itu kenal. Ini nggak ada hubungan dengan ekspresi ya. Nggak tahu kalau mas Djody punya agenda politik dibaliknya. Yah wajar saja karena dia suka dakwah politik juga.

 

Waktu itu Setiawan Djody dekat dengan istana. Apakah dengan dia masuk ke dunia Iwan Fals itu tujuannya untuk meredam Anda?

Oh mungkin. Tapi kan dia selalu ngomong. “Sebelum orang ngomong apa-apa soal Soeharto saya sudah menyanyian “Bongkar”. Saya sudah menyanyikan “Bento”.” Mas Djody  selalu mengutip itu kan? Apakah itu rekayasa mas Djody sendiri atau bukan saya tidak tahu. Jika itu rekayasa, itu hak mas Djody juga berteman dengan saya.

 

Tapi sebenarnya lagu “Bento” dan “Bongkar” itu bukan karena Soeharto. Bongkar itu kan tentang penindasan. Bento juga begitu. Saya bisa jadi Bento. Setiawan Djody bisa jadi Bento. Hanya karena waktu itu di plintir oleh siapa saya nggak tahu. Kan menarik waktu itu Bento muncul singkatan-singkatan di media. Benteng Soeharto. Benci Soeharto. Buat jualan media itu bagus. Saya sempat bangga juga soal itu. Kan ditulis oleh Koran-koran hahaha.

 

Sempat di datangi sama intel waktu itu?

Sempat di Lampung. Waktu itu sama Swami. Tapi malah dibela sama…siapa ya? Kalau nggak salah Hendropriyono. Dia yang membolehkan kami waktu itu main juga pada akhirnya.

 

Kalau soal peristiwa lagu mbak Tini?

Itu saya sendirian saat itu tahun 1984. Waktu itu di Pekanbaru. Saya dianggap menghina. Soeharto dan Tien Soeharto. Karena saya bikin lagu nama tokohnya mbak Tini dan Pak Soeharto. Soeharto itu sopir truk, kalau mbak Tini itu PSK yang insaf lantas buka warung jual kopi. Mereka berdua kawin. Tapi Soeharto yang diputusin kerja lantas jadi penjahat dan nggak pulang lagi. Entah mati atau kawin lagi. Mbak Tini nggak tahan terus jadi PSK lagi. Itu cerita dalam lagu saya.

 

Tapi sebenarnya lirik lagu itu menjurus kearah situ nggak (Tien Soeharto dan Soeharto)?

Nah ini pertanyaan sama dengan orang yang melakukan interogasi  ke saya waktu itu. Saya jawab mungkin iya. Karena mendominasi kan tiap hari ada berita Soeharto. Tapi nama Soeharto kan bukan presiden saja. Bisa tukang bakso. Mungkin mbak Tini itu perwujudan dari ibu saya karena gemuk. Yang terekam dibawah sadar. Karena figurnya saya tangkap seperti itu. Mungkin Karena tentara-tentara itu ingin cari muka terus menangkap saya. Saya menghina atau apa. Saya nggak tahu. Konser hari kedua akhirnya nggak jadi. Dua minggu saya ditahan disana. Tapi karena terbukti tidak salah ya dilepas lagi. Malah saya sempat mendapat marga, Siahaan kalau nggak salah karena nggak terbukti.

 

Kasus ini kemudian diteruskan di Laksusda. Nggak tahu masih ada apa nggak tuh Laksusda. Kurang lebih 2 bulan bolak balik ngurus kasus itu. Saya ketakutan juga waktu itu. Saya juga bingung. Saya sudah sering mainkan lagu itu di Jakarta aman-aman saja. Eh di daerah malah kena. Yah, mungkin mereka mau cari muka. Tapi saya takut juga waktu itu. Karena di periksa bareng penyelundup, pemalsu uang, dan penjahat lain. Tapi karena nggak punya pikiran apa-apa dan nggak tujuan menghina ya dilepas.

 

Tapi mungkin juga ada benarnya saat itu menyindir juga ya. Menyindir karena terinspirasi. Saat itu saya juga diperiksa karena membuat lagu soal anak mentri penerangan yang terlibat kasus penembakan. Ada pengadilan sandiwara kalau nggak salah. Juga dengan lagu “Pola Sederhana”. Orang waktu itu kan harus mengencangkan ikat pinggang demi kepentingan negara. Harus hidup sengsara demi negara. Harga nggak boleh naik. Harga turun semua saat Sudomo ke pasar dengan wartawan. Tapi begitu dia pergi harga naik lagi. Saya terus bikin lagu itu. “Pola Sederhana”. Jadi tiga lagu itu yang dibahas saat pemeriksaan. “Mbak Tini”, “Pola Sederhana”, sama lagu tentang penembakan yang dilakukan anak menteri. Saya lupa judulnya. Saya nggak tertarik juga masukin di album. Yah kayak situ baca tulisan jaman dahulu. Pasti akan bertanya kok gini…hehehe

 

Soal pelarangan tur 100 kota itu ada fakta terbaru sampai saat ini?

Yang bisa membuktikan pengadilan ya. Saya coba meraba saja. Bisa salah juga ya. Dulu kan orang sangat mudah jual beli apapun. Persaingan industri antar rokok. Saya nggak sebutin namanya. Bisa saling beli surat ijin. Dan itu masuk akal, saat saya dilarang di Palembang satu hari kemudian Camelia Malik datang dengan bendera rokok yang beda. Padahal alasan saya waktu itu dilarang karena ada pembrontak yang kabur nanti takut datang kalau saya konser. Nah pas Camelia Malik malah diperbolehkan. Dia malah bikin pesta rakyat gitu. Lebih ramai. Saya sedih, yah terus saya pulang…

 

Itu dari industri ya. Kalau dari politik waktu itu Soeharto kan kuat. Bisa jadi dapat info yang salah soal saya. Terus dilarang. Yah bisa saja dia yang punya kekuatan. Saya dianggap tukang kritik yang bisa mempengaruhi rakyat.

 

Padahal Setiawan Djody sudah ikut ya?

Belum, waktu itu dia cuma main. Airo masih punya Sofyan Ali. Jadi dia juga nggak begitu terlibat. Nggak tahu ya dari dua analisa itu mana yang benar. Dan masih misterius juga sampai saat itu. Tapi ya ada hikmahnya, kalau saya nggak dilarang waktu itu mungkin kita tidak bisa ketemu sekarang. Saya baru sadar. Musik itu bukan main-main. Orang bisa jual apapun untuk nonton konser. Sekarang bisa jadi persaingan perusahaan besar.

 

Itu makin membuat Anda kemudian yakin bahwa sponsor tidak boleh ada dalam latar panggung konser Anda?

Saya yakin dengan langkah saya. Kalau mau ada sponsor ya diluar panggung saya. Panggung itu tempat sembahyang saya. Tempat saya melakukan ekspresi. Kalau mau sponsor yang menutup stadion nggak apa-apa. Tapi kalau misinya kemanusiaan dan keagamaan atau kerukunan, saya nggak masalah kalau ada nama dan logo. Seperti saya kemarin main di Manado. Saya dikasih topi ada tulisan ‘Bukit Kasih’, ternyata disitu nama tempat ibadah di daerah Manado. Nggak tahu ya itu dagang dakwah atau apa? Artinya dia kan jadi karyawan Allah ya hahaha. Kalau dengan produk seperti Djie Sam Soe, Djarum, Marlboro, atau Coca Cola saya tidak mau logo mereka ada di belakang panggung konser.

 

Ada rencana Swami, Dalbo, atau Kantata Takwa untuk reuni?

Kalau Swami nggak. Kalau Dalbo juga nggak mungkin, karena istri saya nggak suka dengan Dalbo. Nama band kok anak Genderuwo hahaha. Nggak tahu kalau Kantata Takwa ya.

 

 

V.           KESEIMBANGAN 

Konsep dasar album 50:50 itu untuk menjadi penyeimbang. Kalau boleh saya pakai bahasa seperti ini, untuk menampung  karya Iwan Fals yang idealis dan yang komersil?

Bisa dibilang seperti itu. Saya lebih berusaha untuk menghayati dan memahami pasar. Yah, saat itu Musica punya ide dan di situ bukan sebatas ide, tapi ada survey dari pasar. Dan dapatlah 5 lagu yang seperti Musica inginkan. Tapi saya juga mulai jenuh dengan yang begitu-begitu. Saya mencoba paksakan. Karena saya punya pendapat sesuatu yang tidak baik belum tentu tidak baik bagi kita. Saya coba pahami itu.

 

Tapi dari awal saya juga sudah memberi masukan, bahwa lagu-lagu saya juga harus masuk. Diambil 6 lagu. Tapi dari isi lagu, tentang porsi cinta, itu yang ngurus Musica. Saya juga ada ide-ide, dan saya coba masukan perenungan soal Munir, negara, dan tentang keadaan orang makan areng itu tidak bisa disepelekan.

 

Lagu tentang Munir itu di lagu mana ya?

Lagu “Pulanglah”. Jadi inspirasinya dari almarhum Munir. Saya sedang di Sukabumi saat mendengar radio, dapat berita meninggalnya dia. Saat itu saya sedang di persawahan. Saya termasuk orang dan hormat pada Munir. Dia orang yang jernih dan lantang bersuara.

 

Sebelumnya sempat kenal langsung dengan almarhum Munir?

Belum pernah. Tapi saya dengar dari mbak Suci (istri Munir) katanya Munir dan teman-teman suka mendengarkan lagu-lagu saya. Yah, kita beda jauh sih ya. Dia di politik saya di musik. Tapi itu kan tidak menutup rasa hormat saya. Lepas dari salah atau benar, artinya bahwa dalam kondisi seperti ini masih ada orang yang bicara untuk orang lain dan memberikan waktunya bagi orang lain. Itu kan cukup langka. Karena sekitar lingkungan kita tidak peduli dengan sesama. Semuanya sekitar kita masih tentang ekonomi. Duit dan duit terus. Ada Munir masuk. Kemudian yah dia dimunirkan itu.

 

Sempat beberapa kali pas jalan sama Slank untuk cari dana Tsunami saya sempat bawakan lagu itu dan akhirnya masuk dalam album ini. Karena ini penting bagi saya. Bagaimana seorang Munir tidak mendapat kejelasan hukum yang jelas. Nggak jelas. Kan satu pesawat Garuda. Yang masuk jelas. Kan tinggal disisir. Tinggal ditanya. Masak teknologi nggak bisa bantu. Pertanyaan anak kecil seperti anak SMP juga simple. Sampai sekarang belum selesai. Gimana? Mungkin kalau soal meninggalnya ya sudah takdir. Tapi bahwa proses hukum itu yang harus jelas. Supaya saya yakin hidup di Indonesia karena saya juga punya anak dan istri. Gimana kalau semua serba nggak jelas. Saya lihat Munir dari situ. Karena menyangkut harkat dasar hidup orang. Kalau ini nggak beres? Wah, Bagaimana nasib orang yang nggak punya nama. Terus juga pikiran-pikiran saya tentang negara ini.

 

Saya lihat negara ini dari atas. Negara ini kaya. Saya penasaran, negara ini kan makmur. Di diskusi Reboaan saya tanya beberapa ahli soal kondisi negara. Saya bertanya sesungguhnya bisa nggak kita ini kesehatan dan pendidikan gratis? Mereka bilang, ‘Bisa!’. Saya Tanya lagi, benar bisa? ‘Bisa kata mereka.’ Ya sudah saya bikin lagu tentang negara. Isinya tentang jaminan keamanan, bersahabat tentang alam, harapan tentang pendidikan. Gimana mau maju kalau kita masih bodoh. Kalau kita nggak sehat.

 

Kita semunya ada. Kita nggak seperti negeri salju atau negeri panas. Ini perasaan saya. Nggak harus politisi untuk bicara seperti ini. Ini yang saya utarakan ke Musica. Saya punya pikiran-pikiran yang harus saya suarakan. Kalau nggak saya akan dosa. Saya juga perlu cinta tapi saya juga butuh pemikiran seperti ini. Nah, kebetulan Musica setuju dengan ide saya itu. Saya menghormati benar sama Musica. Karena mereka yang memiliki jaringan promosi.

 

Sempat  takut dengan  misi album yang berisi kritik di album 50:50 akan tidak tersampaikan karena orang lebih menyukai lagu-lagu cinta di album itu?

 Saya nggak takut sih ya. Kecuali sama Allah ya. Ya ketakutan saya malah omongan itu berbalik ke saya.  Saya tidak bisa mewujudkan yang saya omongkan. Seperti yang terjadi di wawancara ini. Sampeyan tulis. Lalu saya ngomong sembarangan. Ya, paling susah merealisasikan. Yang lain saya nggak ada ketakutan. Nah, bahkan saya malah berterimakasih karena digabung dengan lagu-lagu cinta dan jualan. Yang orang ingin dengar lagu cinta akan mendapatkan lagu-lagu dengan tema sosial juga.

 

Sebenarnya ini cerminan dari keinginan saya. Cuma saya belum bisa mewujudkan lagu-lagu cinta saya. Tidak sebagus Opick bikin, Digo, atau mungkin Pongky dan yang lain. Kekinian. Saya sudah mulai hilang bunyi-bunyi cinta. Syair pendek tapi yang benar-benar tulus. Saya kesulitan membuat lagu seperti itu. Tapi saya butuh lagu-lagu tersebut. Makanya Musica memilihkan lagu-lagu cinta. Saya ada lagu cinta satu, tapi ya itu. Lagu cinta saya ini sudah saya buat 15 tahun lalu. Judulnya “KaSaCiMa.”

 

Oya, KaSaCiMa itu apa ada artinya?

“KaSaCiMa” itu artinya Kasihku, Sayangku, Cintaku, Manisku hahaha. Sebenarnya itu belum ada judul. Nah pas saat itu saya tetap diminta bikin lagu cinta. Ya sudah saya kasih judul pas rekaman kemarin disingkat jadi “KaSaCiMa” hahaha. Komplit banget  kan isinya.

 

Kalau lagu-lagu dari pencipta lagu lain di album 50:50, Anda ikut menyeleksi dan melakukan revisi?

Ada, beberapa seperti lagunya Digo yang liriknya saya minta rubah sedikit. Juga lagu Opick. Tapi tidak mendasar. Lebih pada saya supaya nyanyi saya enak.

 

Kalau lagu-lagu yang dipilih Musica Anda  ikut menyeleksi penciptanya? Apa melihat ke lagu?

Iya lebih ke lagu. Ini di seleksi oleh 3 pihak. Ada saya, manajemen, dan Musica. Lagu saya 300-an yang dipilih enam. Lagu dari pencipta luar lebih dari 20-an. Yang kepilih ya enam itu. Jadi total ada sekitar 350-an lagu untuk menyiapkan album ini. Yang terpilih ya 12 lagu ini di album 50:50.

 

Ada lagu yang Anda suka secara pribadi tapi tidak bisa  masuk?

Banyak. Ada lagunya Dewi Pakis, ada lagunya Bagoes AA yang kasih saya 5 lagu. Bagus-bagus. Lagu tentang musafir. Hubungan tentang anak. Pemikiran mencari Tuhan. Tapi ya itu. Ada yang bilang terlalu jaman dulu hehehe. Tapi saya hormati juga dengan lagu-lagu mereka. Saya akan cari jalan keluar. Yah, seperti sekarang jaman beli lagu di Im:port kayak gitu. Mungkin akan saya pakai cara itu buat lagu lain yang tidak tertampung.

 

 

VI.              OPTIMISME & NEGARA IMPOSIBLE

 

Sekarang kelihatannya beberapa orang Indonesia optimis ya. Kemarin pada bikin Petisi 2030 tentang visi dan misi baru. Kelompok pengusaha datang ke SBY bahwa tahun 2030 negara kita akan masuk 5 besar negara maju. Ada komentar soal itu?

Oh gitu? Wah kalau saya memang optimis. Saya optimis karena saya melihat dari langit saat saya tur. Kaya negara kita ini. Sekarang soal ngomong keterbukaan, karena saya pikir yang 190 juta orang kebanyakan jauh lebih siap dari 10 juta orang yang sibuk ngurus duit mereka sendiri. Padahal menghormati sesama itu penting. Tapi ya nggak tahu kita seperti dihalangi sesuatu.

 

Kalau memang masalahnya tidak ada solusi, ya biar alam yang berbicara. Kan nanti mereka akan mati. Diganti oleh yang muda. Dan cara berfikir kita kan beda. Kalau dulu suka memakai kata bersayap. Kalau sekarang kan apa adanya. Siapa yang bisa bertahan dengan itu semua. Ok masih ada yang tahan. Tapi apa tahan jika orang mulai banyak yang mengemis di rumah mereka atau mobil mereka. Apalagi kalau mereka muslim, ada hak yang akan mereka minta. Apa akan terjadi seperti ini? Jadi ya tidak ada cara lain. Saya yakin negara kita bisa besar kok. Tetapi ya jangan cuekin kritik. Kalau kritik nggak dijawab ya bagaimana bisa sampai ke 2030? Saya sepakat, kita bisa kalau perlu nomor satu. Kenapa saya bilang nomor satu karena posisi kita enak. Udara enak dan bersih. Secara dasar dan kultur kita di khatulistiwa ini bisa kok.

 

Apa karena bangsa kita itu terkenal malas lantas  keenakan hidup santai?

Nah itu dia, karena yang jadi persoalan. Kalau males ya sudah. Tinggal kita mau rajin apa tidak. Alam sudah mendukung. Asal mau kerja saja…

 

Tidak ingin  terlibat secara langsung untuk mengatasi hal-hal krusial seperti itu lewat lembaga tertentu atau dengan OI?

Tidak. Di seni suara saya lebih banyak berbuat daripada saya masuk di partai politik. Seperti kemarin saya nyanyi tinggal teriak Indonesia!!! Bebas berbicara. Kalau di politik wah banyak upacara-upacara yang nggak jelas. Saya juga tidak memahami persoalan politik. Saya kurang kejam untuk di politik.

 

Kalau tiba-tiba OI di tahun 2008 sepakat mengsung Iwan Fals sebagai Presiden Indonesia gimana?

Wah nggak lah… Saya menghormati Eep Saefullah Fatah, Ariel (Haryanto), Andreas (Harsono), Arief Budiman. Masih banyak orang yang mengerti. Saya cuma bagian kecil dari itu. Saya cuma menyemangati saja lewat musik. Masih ada orang seperti Faisal Basri, ada lagi (Ichsanuddin) Noorsy. Lalu ada Budiman Sudjatmiko yang memang terjun ke politik. Macam-macam banyak orang pandai. Kalau ada kesempatan pikiran-pikiran mereka bisa dipublikasikan dan orang nggak terlalu curiga dahulu dengan mereka pasti bagus. Tapi kalau dari awal nggak percaya? Ya susah…

 

Kalau kemudian politik berubah. Dan orang-orang tersebut berkumpul untuk membangun negara ini. Anda bersedia diajak bergabung?

Sebagai teman saya mau. Tapi kalau terjun ke politik dan ikut kampanye saya nggak mau. Yah, saya di musik sajalah. Nggak usah dengan mereka, dengan pemerintahan saya juga baik. Sejauh mereka juga menghargai saya.

 

 

Bicara tentang penghargaan. Bajakan makin merajalela. Tidak ada ketegasan, sebagai seniman yang karyanya banyak dibajak ada komentar?

Yah saya juga marah. Tapi kadang saya nggak melihat dari segi ekonomi. Tapi ya itu tadi. Saya bayar pajak. Padahal ada polisi juga. Itu tadi karena saya kurang kejam tadi. Apa ya namanya. Bisa dibilang egois kali ya. Tapi daripada saya ngurusin hal-hal seperti itu waktu saya bikin lagu jadi habis. Padahal urgensi dan tugas utama saya ya bikin lagu. Nyanyi. Bikin lagu. Mengerti benar persoalan lagu saya. Kan banyak hal yang menarik selain bajakan. Kalau ditanya kenapa tidak ikut campur? Saya bilang dunia saya kan besar. Ada ekonominya, ada bagian ininya, ada itunya. Tugas saya penciptaan. Tapi yah, saya kesel bener dengan bajakan. Untungnya saya masih bisa main di tur. Masih bisa dapat uang dari konser. Yah ada tambahan lain. Dan lebih besar dari konser pendapatan daripada di album. Album dibajak itu perbandingannya satu banding lima belas.

 

Kalau pemerintah yang seharusnya menindak lanjuti pembajakan malah terkesan membiarkan hal tersebut berlangsung. Bagaimana sebaiknya yang harus pemerintah lakukan?

Yah itu di DPR juga ngomong gitu. “Masak rakyat nggak boleh beli yang murah.” Lho saya juga rakyat. Kalau membela rakyat yang itu dan mengorbankan rakyat yang lain. Yah jadi tetap saja, maling tetap maling. Sehebatnya Robin Hood walau untuk kebaikan ya tetap saja maling. Masalah mahal dan murah kan bisa diomongkan. Masalah hukum yang harus ditegakkan. Teknisnya saya nggak tahu.

 

Tapi bahwa kalau ada pertanyaan dasar, ‘Mau nggak karyanya dibajak?’ pertanyaanya yang mendasar kan itu. Mau nggak mereka? Paling cuma almarhum Harry Roesli yang membiarkan pembajak. ‘Silahkan bajak.’ Tapi saya meyakini dia itu kesel. Karena sudah menyerah dengan kondisi. Seperti kalau ada yang teriak, Babi lu…padahal maksudnya pujian. Yang mengerti kan hukum seharusnya mengatasi itu, kalau nggak ada ya diadakan. Tapi saya percaya. Walau transportasi hancur. Fasilitas umum  kurang.

 

Habis kalau nggak mau percaya lagi gimana? Atau mau seperti John Lennon yang tidak ada negara. Atau mau pecah menjadi negara kecil-kecil. Tapi kalau itu untuk kebaikan ya kenapa tidak. Yah, buat wujudkan yang tahun 2030 tadi. Apalagi didorong oleh MDGS soal kemiskinan, Aids dan lain.

 

Apa perlu istilah kita semua kenyang dulu baru demokrasi?

Iya. Saya pernah dengar soal itu dari Sindikat Suryadi atau apa gitu soal itu. Soal kenyang dulu baru demokrasi. Saya tidak tahu namanya demokrasi atau apa? tapi persoalannya kita nggak boleh susah lagi. Saya nggak mengerti harus bagaimana caranya. Apa kita mau pakai Islam karena mayoritas atau apa. Yang penting orang bisa belajar benar, sehat, tidak saling mencaci, tidak saling membunuh. Ya memang bukan di surga, Tapi ya bisa jadi surga. Ya kita mau kita apakan hidup ini. Mau kita hancurin atau apa. Mati kan sudah pasti. Ngapain lagi coba?

 

Kalau soal sikap dan kinerja pemerintahan sekarang apa yang sedang terjadi?

Yah makan hati. Karena terlalu hati-hati hahaha. Tapi lumyan lho, berapa Gubernur yang ditahan. Terakhir kemarin dari Bulog. Lumayanlah. Paling tidak ada niatan. Presiden sendiri yang ngomong dia akan membrantas korupsi. Masalah dia bisa membuktikan apa tidak yang tanggung jawab dia per lima tahun nanti. Tapi masak sih, seorang  jendral kok plin plan? Saya sendiri nggak tega melihatnya. Saya sendiri kan anak tentara. Jadi tahu soal kata-kata itu dipegang benar oleh bapak saya. Tapi mungkin sulit ya melawan mafia dan sifatnya politik. Saya memaklumi. Tapi persoalan kelaparan itu kenyataan. Lapindo kenapa tidak di dahulukan. Bayar saja dulu. Sekarang dibalikan, ‘Bisa nggak tidak ada kamar mandi.’ Lihat di TV mereka disumbang dengan makanan basi. Mungkin memang tidak langsung dibawah SBY tapi kan semua struktur dibawah dia. Jadi wajar banyak orang marahin SBY pada akhirnya.

 

Seniman kita kurang perhatian dengan kondisi sosial ya sekarang ini?

Masih kok. Perhatian juga, Slank bawain lagu “Lapindo”. Cuma nggak di ekspos. Sekarang lagi banyak musik rap, yang kalau diperhatikan liriknya menarik juga. Terus ada puisi jalanan. Masih ada yang menyuarakan…

 

Perbedaan mendasar cara menyuarakan protes jaman dahulu dan sekarang?

Oh iya pasti beda. Saya dulu penuh ketakutan jaman Soeharto. Takut pada diri sendiri nanti di apa-apain.

 

Tapi waktu jaman katakanlah tertidas itu jauh lebih kreatif?

Ahh nggak, kok sama saja. Sekarang malah lebih kreatif karena tidak ada larangan. Hanya memang jaman Soeharto dulu bentuk bunyi dan sastra itu seperti percikan-percikan begitu. Retorika atau runtutan bahasa itu mengena. Kalau sekarang kan bebas mengalir saja. Tapi pas saya lihat kok nggak berasa sekarang? Padahal sudah maksimal. Malah lebih terasa itu kalau ngomong soal kupu-kupu. Air dan embun. Atau ngomong tentang pertumbuhan bayi. Seorang tentara gendong bayinya dengan seragamnya. Itu lebih berasa. Saya pernah lihat kang Iwan Abdurraman nyanyi di Senayan, rasanya seperti diiris-iris. Di silet-silet gitu. Padahal dia orangnya kan keras. Yah, itulah perjalanan yah…

 

 

Sempat mengalami bosan karena selama ini mengajukan protes atau masukan soal kondisi sosial dan negara tapi tidak ditanggapi oleh pemerintah?

Ohh nggak, saya yakin lagu saya tidak akan dicuekin. Pasti akan direspon dengan serius atau malu-malu. Saya jelas kok bayar pajak. Main saya dimana gitu bisa dihitung. Kalau tidak diperhatikan ya bukan salah saya, itu urusan mereka. Tanggung jawab saya adalah melakukan perjalanan, mencatat yang saya rasakan. Kalau sakit yang teriak, kalau riang yang gembira. Main musik. Kalau nanti harus mendapat harmoni dan harus mendapat penjara, itu bagian dari perjalalan. Dan itu bukan istimewa. Saya cuma berusaha menempatkan diri siapa tahu bisa memberi semangat teman-teman yang masih marah-marah. Supaya tetap terus. Berani ngomong benar. Itu dakwah saya. Saya percaya dengan pendapat yang bisa menyelesaikan semua persoalan ini adalah cuma dakwah. Entah kyai dengan masjidnya. Pendeta dengan gereja. Orang harus diberitahu. Kalau di diamkan saja ya semua akan hancur.

 

Sementara ada kyai yang menjadi panutan malah kawin lagi ya?

Nah itu umpamanya. Tapi wah saya nggak tahu soal itu. Tapi saya setuju dakwah yang akan membereskan. Bayangkan jika anak kita tidak dikasih dakwah. Kalau di dilepas di hutan akan jadi anak srigala dia. Kalau bosan sih nggak yah. Pelarian saya dengan membaca buku dan main gitar. Saya memang tidak kaya tapi bisalah hidup. Kadang saya masih butuh tepuk tangan orang lain untuk mengukur kemampuan diri.

 

Mengukur kemampuan bahwa Iwan Fals masih dihargai?

Bukan itu. Ini usaha saya dalam kerangka mengisi waktu dalam menit ke menit. Jam ke jam. Pagi ketemu pagi lagi. Bagaimana saya masih bisa hidup. Seperti saya ngajarin Rayya kalau dia marah-marah saya minta dia ambil nafas panjang. Lumayan waktu 2 menit. Apalagi kemudian ditambah sama ibunya untuk melakukan dzikir jika marah-marah. Terus misalnya saya marah-marah bikin lagu. Habis itu capai. Selesai. Tidur. Alhamdulillah. Selamat hidup saya hari ini. Kalau lagi rajin enak, lima waktu bisa berdoa.

 

Rajin sholat lima waktu?
Yah kadang-kadang hahaha. Saya suka mempelajari banyak buku agama. Budha, Khong Hu Chu, Hindu. Dan banyak buku-buku lain.

 

Sedang membaca buku apa saat ini?
Saya sedang membaca buku tentang Panglima Armada Aceh. Laksamana Kemalahayati. Jadi komandan perang perempuan yang memimpin 100 kapal. Dia melawan portugis. Dia punya nama pasukan Inong Bale. Pasukan janda-janda terdiri dari janda para suami yang meninggal karena perang.

 

Pingin menuangkan dalam lagu?

Iya saya ingin menuangkan dalam lagu. Karena perempuan di jaman kita sekarang agak dinomor sekiankan. Padahal abad 15 perempuan kita di Aceh sudah menjadi Laksamana. Jauh sebelum Kartini. Beberapa tahun setelah Malahayati ada Al Amal, dia raja perempuan dari Aceh. Alasan awal saya karena kita mau main di Aceh, tahu saya cuma Tjut Nya’ Dien, dari situ saya banyak membaca referensi tentang Aceh. Saya tahu ada universitas Malahayati tapi saya nggak tahu ternyata itu nama pahlawan di Aceh. Sayang kalau cuma datang dan nggak membawa apa-apa ke Aceh. Jaman sekarang perempuan nggak boleh kerja. Lha jaman itu sudah ikut perang. Ya, nggak istimewa Megawati jadi presiden hehehe. Apalagi kalau kita lihat Fear Factor, perempuan banyak yang menang, laki-laki malah pada keok…

 

Ada ide menuangkan dan menjadikan isu feminisme dalam sebuah lagu atau album?

Wah saya belum tahu. Saya sedang membaca saja. Sebenarnya sih hubungan dengan dakwah ya sesekali. Tapi hubungan dengan kodrat beda. Kalau kita lihat anak-anak kecil tidak ketahuan laki atau perempuan. Nanti kalau sudah dewasa baru ketahuan. Coba kalau kita menykapinya wajar. Bedanya karena mereka dikondisikan…

 

 

VII.           PENDIDIKAN ANAK BANGSA

 

Percaya dengan sistem pendidikan di Indonesia?

Saya harus percaya karena pakarnya ngomong bisa. Faisal Basri, Noorsy (Ichsanuddin) ngomong bisa. Orang pintar itu ngomong bisa.  Saya harus percaya.

 

Kalau soal mutu?

Ya harus dengan mutu. Internet sudah banyak. Harusnya bisa.

 

Kitanya  mungkin yang tidak siap menerima gelombang globalisasi itu?

Siap dong. Portugis masuk Aceh abad 15. Wali Songo masuk dari Persia. Artinya sudah biasa kita melakukan interaksi. Dulu VOC datang dan dagang kan? Terus dia datang lama-lama jadi penjajah. Interaksi dengan nyai–nyai lokal. Nggak aneh kita dengan globalisasi. Perlu belajar sejarah lagi kalau masih nggak percaya dengan globalisasi. Saya makin percaya dengan  diri saya karena dalam darah saya ada darah Arab, Cina, Bali, Jawa, Sunda. Dalam istri saya ada darah Jerman, Belanda, dan Betawi. Bisa dibayangin anak saya ada berapa campuran coba? Juga dengan gerakan silat dan karate itu kan banyak percampuran. Juga dengan musik. Juga dengan orang-orang Dieng itu kan pelarian dari Majapahit. Lebih lama lagi orang Sangir kan?

 

Andreas Harsono dari Pantau mengenalkan istilah Indopahit sebagai satir atas kondisi negara kita. Anda menyetujuinya??

Kenyataanya memang begitu. Coba saja tanya sama mereka yang kena gusur. Pasti mereka akan bilang Super Pahit. Tapi kalau kita mau punya negara ya harus percaya bahwa kita bisa baik. Kalau perlu kita bisa menjadi nomor satu.

 

Kalau negara kita dengan sistem federal saja bagaimana?

Saya nggak tahu teknisnya gimana. Saya nggak tahu bagaimana pokoknya harus sejahtera. Entah itu lewat komunis atau liberal saya nggak tahu. Tapi kalau saya masih setuju dengan Pancasila. Apa jeleknya Ketuhanan, Kemanusiaan, Kemasyarakatan, Musyawarah, atau Keadilan. Apa jeleknya coba?

 

Atau kita harus komunis dulu terus baru demokrasi. Buktinya negara yang dahulu berbasiskan komunis sekarang bisa maju.

Saya nggak tahu. Harus tanya dulu ke ahli. Lho, tapi kalau ternyata komunis bisa membuat sejahtera? Kenapa tidak? Tapi kalau atheis saya nggak. Saya bertuhan. Saya masih percaya Tuhan. Tapi kalau cuma soal komunis saya nggak masalah. Silahkan saja kalau mau komunis dan liberal kalau itu membawa kesejahteraan. Tapi kalau saya di tanya pribadi saya masih percaya dengan Pancasila. Tinggal dijalankan saja. Ikuti saja dulu. Boro-boro bisa ikutin 5. Bisa satu saja sudah luar biasa. Harus dijalankan saja.

 

Mumpung SBY masih ada waktu. Jalankan serius pemerintahan. Jangan pura-pura. Masih ada waktu dua tahun. Silahkan bekerja. Sampai kapan kita akan gelisah coba? Buat saya yah kerja sajalah. Yang musik ya di musik. Yang kerja di pers ya kerja di pers. Tentara ya tentara. Saya mensyukuri dengan konser saya yang lancar. Jangan sampai di gangguin oleh suhu politik. Kalau cuma berangkat dari pikiran sederhana bahwa musik itu untuk hiburan saya yakin musik tidak akan membawa kericuhan. Saya percaya itu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s